devil's posts with tag: silat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag silat
EventDiskusi Silek MinangkabauJan 21, '08 5:57 AM
for everyone
Start:     Jan 26, '08 06:00a
Location:     TMII
[IMG]http://silatindonesia.com/diskusi.png[/IMG]


Dear Sahabat Silat,

Melanjutkan tradisi diskusi bulanan kita, pada bulan Januari ini akan
diselenggarakan diskusi sebagai berikut:

Topik : Silat Harimau (Minangkabau)
Pembicara : Bapak Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam
Tempat : Anjungan Sumatera Barat - TMII
Waktu : 14.00, Sabtu 26 Januari 2008

Seperti biasa, akan ditampilkan sejarah, filosofi dan demo
jurus/aplikasi silat ini. Acara akan diarahkan oleh sahabat kita
Kisawung selaku Moderator diskusi.

Sedikit latar belakang tentang pembicara, Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo
Alam, beliau belajar silat sejak usia dini dari kakeknya di kampungnya
negeri Balingka, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kecintaannya terhadap
Silek Minang terlihat dari kemauannya mempelajari baik Silek Harimau
yang merupakan mainan keluarganya maupun Silek-silek Minang lain dari
beberapa Tuo Silek di Ranah Minang. Adapun aliran-aliran Silek Minang
lain yang pernah dipelajari beliau antara lain Silek Tuo, Silek Sunua,
Silek Kumango, Silek Sitaralak, Silek Pakiah Rabun dan Silek Kuciang.

Kami sangat mengharapkan kedatangan Sahabat Silat sekalian. Karena
TMII merupakan tempat hiburan keluarga, tidak ada salahnya untuk
mengajak keluarga ke acara kita ini, sekaligus memperkenalkan kekayaan
budaya Indonesia kepada anak-anak kita.

Sampai ketemu dan salah hormat.

http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=458.0

buat teman-teman yang tertarik ikut latihan silat tradisional bisa gabung dengan teman-teman dari komunitas sahabat silat (www.sahabatsilat.com), ini forwad emailnya :

===================================================================

Dh,

Rekan2 Sahabat Silat Forum Pencinta Dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia,
akan menfasilitasi pembukaan pelatihan Silat Tradisional Tahap II, yang
direncanakan pelatihan akan diadakan untuk:
1. Aliran Sabeni;
2. Aliran Cingkrik Goning;
3. Aliran Cikalong;
4. Aliran Paseban;
5. Aliran Gerak Saka;
6. Aliran Silek Kumango;
7. Aliran Margaluyu;
8. Sabandar.

Pembukaan Latihan Tahap II ini dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Pelatihan akan berlangsung dengan jumlah murid minimal 10 orang dengan 1
orang akan ditunjuk sebagai Koordinator Latihan;
2. Pembukaan Latihan akan dilaksanakan serentak untuk aliran yang telah
memenuhi jumlah minimal murid pada tanggal 30 Juni di padepokan pencak silat
pada pukul 10.00 WIB;
3. Administrasi pendaftaran, dapat melalui email ke alamat email, udo alda;
udo iwan s; udo ian s; mas eko:


wan711225@...;dala3000@....;
rama.wijaya@...;kumalahijau@...


dengan mencantumkan: nama, alamat lengkap, pekerjaan, no.kontak dan aliran
yang ingin diikuti.
4. Untuk seragam dan biaya latihan akan ditentukan oleh masing2 aliran.
5. jadwal pelatihan sementara ini dipusatkan di Padepokan pencak silat
indonesia setiap hari Sabtu jam 8.30 s/d 12.00 WIB untuk hari lain akan dicari
dulu tempatnya.
6. Usia minimal 17 tahun keatas ..... (kayak mau nonton filem aja ..)

Pembukaan dibuka dari hari ini sampai dengan tanggal 29 Juni 2007.

Ikutan ya ....

Eko Hadi S
Corporate Legal & Compliance
PT. TEMPO INTI MEDIA Tbk
Telp: 021-3916160, Ext.212


Wisata Silat(Napak Tilas Maenpo Cianjur menuju Kelestarian dan Penemuan Jati Diri)

Oleh : Ian Syamsudin
silatindonesia.com - Juma’at malam, kalender menujukkan tanggal 11 Mei 2007, berkumpullah para pendekar, pencinta, pemerhati dan sahabat silat tradisionil di Padepokan Pencak Silat (TMII) Jakarta untuk melakukan sesuatu yang agak lain dalam upaya pelestarian pencak silat tradisional yaitu berwisata silat ke Cianjur.

Wisata silat? Ya wisata silat...! Mengapa tidak? Bukankah pencak silat merupakan budaya bangsa yang tetaplah sebuah produk budaya yang dapat dinikmati keindahannya, dikagumi kedalaman isi filosofi, dan dikenal-mendalam untuk semakin dicintai pada konteks budaya masyarakatnya.

Maka sengaja, Forum Pencinta dan Pelestari Pencak Silat Tradisional (FP2ST) mengorganisir cara baru mengenalkan dan melestarikan Pencak Silat khususnya silat tradisi pada kaum muda yaitu dengan ber-wisata silat. Sebuah metode yang diinspirasikan dari pengalaman Cina dan Thailand dalam hal budaya beladiri dan pariwisata dan kelestarian budaya mereka.

Meski dengan fokus pada maenpo Cianjur, wisata silat juga akan menikmati keramahan masyarakat cianjur, keindahan alamnya dan lezatnya makanan (wisata kuliner) khas cianjur...!

Sejak pukul 19:00 peserta mulai berdatangan dan langsung menyantap makan malam berupa nasi padang bungkus. Yang muda, yang tua, yang pendekar, yang praktisi, yang hobby, yang pengamat, yang pemerhati silat, semua berbaur, bergaul dan bersilahturahmi.

Serta tidak ketinggalan para sesepuh perguruan dan aliran juga hadir; seakan tidak mau kalah dengan kaum muda dan dengan demikian tetap menunjukkan ‘jiwa muda’ yang selalu peduli dengan kelestarian pencak silat tradisional.

Mereka adalah Babe Ali Sabeni yang adalah anak dari Babe Sabeni, Sang pendiri aliran Sabeni dari Tanah Abang, Jakarta Pusat; hadir juga Bang Idjul, anak dari Babe Ali dan Cucu dari Babe Sabeni; Turut juga Kong Salim, sesepuh dari silat Paseban Lama; Pak Tubagus Bambang, pewaris dan pengembang Cingkrik Goning, Pak Bambang Sarkoro, sesepuh dari perguruan Margaluyu; Babe Nani, sesepuh dari Gerak Saka, dan Sensei Hakim (Aiki-kenyukai), seorang pemerhati silat dari Aikido.

Tentu juga diikuti oleh banyak kaum muda dari milis silat indonesia, kaukus.com, komunitas pencinta alam, bulletin/majalah kesehatan senior (grup kompas), wartawan dari koran tempo, Trans TV, BBC London, dan wartawan setempat (yang hadir ketika acara workshop); dan para pemerhati dan pencinta pencak silat tradisional..!

Setelah dibuka dengan doa oleh Pak Bambang, bis ‘Big Bird’dengan fasilitas AC dan TV ini melaju dengan mulus dari TMII sekitar pukul 21.15 dan tiba di Cianjur pukul 23.15, tepat dua jam dengan kondisi lalu lintas yang lancar.

Sepanjang perjalanan, rombongan tampak bersemangat dan antusias, berkumpul berbagi pikiran dan bersilah turahmi antar peserta; hingga tawa terdengar sepanjang perjalanan, semangat kekeluargaan menyeruak dan siap menyongsong tanah maenpo cikalong, cikaret dan sabandar (plus cimande buhun); inilah ranah Cianjur.

Malam semakin menjelang menyambut rombongan ketika tiba di Gedung KONI, tempat para peserta akan menginap selama wisata silat ini.. Turun dari bis, udara dingin dan sejuk menyambut para peserta yang terbiasa dengan udara jakarta; begitu menyegarkan dan mengenakkan perasaan.

Peserta digelandang masuk ke gedung KONI, tempat sederhana –‘hotel’ atlit—yang akan diinapi selama acara Wisata silat ini. Setelah mendapat Briefing singkat dari Koodinator Forum, Mas Eko Hadi, pesertapun menikmati makanan kecil : pisang, kacang rebus, ubi kecil dan unik dan minuman jahe (sejenis bandrek) yang menghangatkan badan. Sebagian peserta yang kelelahan langsung istirahat dan sebagian yang belum puas dan termasuk dalam kategori terkena ‘virus gila silat’ tetap berdiskusi dan bertukar ilmu hingga subuh....wwuuiihhh...


Jreng...Cianjur, euiy!
12 Mei 2007, Cianjur, sebuah kota kabupaten di provinsi Jawa-Barat, dengan jarak sekitar 65 km dari Bandung, ibukota Jawa-Barata dan 120 km dari Jakarta, dengan jarak tempuh sekitar 2,5-3 jam dalam kondisi lancar. Cianjur terletak diantara 6 derajat 21 detik – 7derajat 25 detik LU dan 106 derajat 42 detik BT-107 derjat 25 detik BT.

Karena berada pada ketinggian sekitar 2.300 dpl dan berada di kaki Gunung Gede, maka kota kecil ini berhawa sejuk dan segar. Dengan jumlah penduduk sekitar 2 juta jiwa ( tepatnya 2.058.134 per tahun 2004 menurut data yang diberikan oleh Pemkab Cianjur dalam situs resminya www.canjur.go.id ), Cianjur menjadi kota yang dinamis dan terus berkembang.

Matahari belum nampak pagi itu, dingin belum juga hilang, Sabtu, 12 Mei 2007, terlihat sekelompok orang sedang senam pagi di halaman Gedung KONI, Cianjur. Halaman yang dilapisi kon-blok itu, pada satu sisinya dipasang tenda untuk kegiatan ormas setempat itu; disanalah para peserta Wisata Silat mengerakkan badan, kendati sebagian peserta belum tidur –karena asyik berdiskusi hingga fajar--; suasana tetap riang; dibawah komando Pak Bambang yang memberikan senam sehat ala margaluyu, disusul kemudian sedikit perkenalan gaya senam-nya sabandar oleh pendekar Kisawung dan sebagai bonus yang unik, senam ala Thailand (apa ya namanya?:)) oleh pendekar O’ong Maryono...

Seusai senam pagi, peserta mandi pagi dan makan pagi yang disiapkan oleh saudara kita dari cikolong pancer bumi, khususnya keluarga Pak Haji Aziz dan Aceng beserta murid-muridnya. Salut untuk mereka yang selama tiga hari dan 2 malam Wisata ini bekerja keras dalam hal yang sangat vital ini yaitu konsumsi.

Dengan rapi, semua peserta berbondong-bondong naik Bis menuju ke Kantor Bupati Cianjur. Sungguh mengejutkan, betapa Pemda Cianjur menganggap serius dan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh bagi acara wisata silat ini. Bupati sendiri yang menyambut dan menerima peserta Wisata Silat.

Sambutan Bupati Cianjur
Dalam sambutannya Bupati Cianjur, Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, mengucapkan selamat datang dan mengenalkan Cianjur dengan motto-nya : ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai salah satu pencerminan kegiatan kerohanian dan spirtualitas. Mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit ( berasal ) dari tatar Cianjur.

Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu asli Cianjur yang sekarang lebih dikenal dengan seni beladiri Pencak Silat. Bahkan pendapo Cianjur pun diadikan ajang bagi ketiga kegiatan tersebut. Secara Resmi Bupati kemudian melepas rombongan untuk ber-wisata silat diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari hadirin.

Dari Forum, yang diwakili Mas Eko, menyatakan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas sambutan yang demikian besar dan penuh dengan kekeluargaan; sebagai rasa terima kasih Forum pun memberikan sedikit tanda mata berupa Kujang kepada Bp Bupati. (menarik juga membandingkan pakaian resmi semua pejabat pemda dan peserta wisata silat yang terkesan santai dan kasual J). Sayang sekali karena kesibukan Bupati, acara pun diakhiri dengan photo bersama di depan Kantor Bupati.

MAKAM HJ IBRAHIM

Rombongan tour pun naik bis lagi dan kali ini mendapat kawalan (dipimpin) oleh mobil LLAJR yang terus menemani selama sehari itu. Tidak hanya itu, seorang pemandu pun ditempatkan di bis peserta, yang dengan setia menjelaskan tentang Cianjur dan juga maenponya.

Disebutkan bahwa wilayah pembangunan Kabupaten Cianjur secara geografis terbagi dalam 3 (tiga) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utara (WPU), Wilayah Pengembangan Tengah (WPT) dan Wilayah Pengembangan Selatan (WPS) dengan jumlah kecamatan sebanyak 24 kecamatan dan terdiri dari 341 Desa dan 6 Kelurahan di wilayah kota Cianjur.

Masing-masing wilayah mempunyai ciri-ciri khusus baik dari segi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya. Sumberdaya alam dapat dibedakan berdasarkan topografi, jenis tanah, iklim, jenis penggunaan tanah dan lain-lain.

1. Wilayah Pengembangan Utara, merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede yang sebagian besar merupakan daerah dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan dataran yang dipergunakan untuk areal perkebunan dan persawahan. Kecamatan yang termasuk wilayah ini adalah Kecamatan Cibeber, Bojongpicung, Ciranjang, Karangtengah, Cianjur, Warungkondang, Cugenang, Pacet, Mande, Cikalongkulon, Sukaluyu, Cilaku dan Sukaresmi.

2. Wilayah Pengembangan Tengah, merupakan daerah yang berbukit-bukit kecil dengan keadaan struktur tanahnya labil sehingga sering terjadi tanah longsor, dataran lainnya terdiri areal ini adalah Kecamatan Tanggeung, Pagelaran, Kadupandak, Takokak, Sukanegara, Campaka dan Campaka Mulya.

3. Wilayah Pengembangan Selatan, merupakan dataran rendah akan tetapi terdapat bukit-bukit kecil yang diselingi oleh pegunungan yang melebar sampai ke daerah pantai Samudra Indonesia. Seperti halnya daerah Cianjur bagian tengah, bagian selatanpun tanahnya labil dan sering terjadi longsor, disini terdapat pula areal perkebunan dan pesawahan tetapi tidak begitu luas. Kecamatan yang termasuk wilayah ini adalah Kecamatan Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun, Naringgul, Cibinong dan Cikadu. Dan masih banyak inforamsi berharga lain yang diberikan.

Iring-iringan 4 mobil (termasuk bis), berjajar menuju ke Makam Rd Ibrahim, pendiri aliran Cikalong. Setelah keluar dari jalan utama Cianjur, masuk ke jalan Jonggol, pemandangan sawah terhampr luas, menghijau menyegarkan mata demi mata yang kesehariannya dipenati oleh suasana ibukota. Berjalan sekitar 4 kilo, jalan mulai mendaki dan berbukit dengan pemandangan yang indah di bawahnya. Tidak lama kemudian rombongan mulai memasuki kecamatan cikalong kulon, tempat makam berada.

Akhirnya setelah melalui jalan kecil-yang oleh peserta disebut; daerah yang belum merdeka he he—bis pun parkir di kaki bukit, tempat makam berada.

Namun kejutan belum usai. Rombongan digiring berlawanan arah dari makam dan menuju ke kantor camat Cijagang , ada semacam sambutan, katanya. Ini memang di luar scenario, tapi peserta pun tidak keberatan, toh waktu yang dimiliki pun cukup banyak.

Ternyata banyak warga masyarakat termasuk camat-nya sendiri yang sudah menanti dengan diiringi musik ibing yang keras dan mengundang untuk ber-joget penca. Pak.. dung.. plak.. dung dung…..Setelah ramah tamah, Camat Cijagang menyambut dan kemudian disampaikan juga sedikit ulasan dan sejarah maenpo cikalong kulon oleh salah seorang sesepuh.

Di kecamatan cikalong kulon yang demikian kecil itu terdapat 28 paguron (perguruan) maenpo dan yang masih terus aktif hingga saat ini tercatat 10 paguron maenpo. Kemudian Penutur ini (maaf namanya lupa) mengisahkan sejarah dan legenda seputar Hj Ibrahim, termasuk pertarungan beliau dengan harimau. Yang dikomentari oleh Hj Ibrahim sendiri “ baru kali ini saya bertarung hidup dan mati”. Cerita dan legenda-legenda tersebut tetap hidup di masyarakat dan menjadi semacam semangat untuk terus mendalami dan melestarikan maenpo cikalong kulon.

Acara kemudian beralih pada atraksi silat dan ibingan..ini yang ditunggu-tunggu peserta. Dengan iringan musik gendang pencak (tepak 2 ) yang bertalu-talu, tampillah gadis cilik yang dengan lincah membawakan ibingan gaya cikalong kulon. Dikuti oleh sekelompok anak-anak dari paguron (perguruan) yang berbeda, dan juga gadis cilik yang memainkan golok ganda, mengundang decak kagum dari para peserta wisata silat.

Tampilan demi tampilan baik berkelompok maupun tunggal disodorkan dipanggung, membuat peserta seperti terpesona dan tidak mau beranjak dari tempat duduknya.

Tidak ketinggalan Bp Pak Camat sendiri pun turun, untuk menampilkan ibingan sebagai penghormatan kepada peserta wisata silat. dahsyat, seorang peserta berkomentar,”bukan main mulai dari Bupatinya, camat cikalong kulon hingga tukang penjual roti pada bisa maenpo!”...

Sebagai balasan, Pak Bambang dari Cingkrik Goning, menampilkan satu dua jurusnya beserta aplikasinya untuk menghibur semuanya. Setelah bang Nizam, sesepuh forum-pun, bang iwan, diajak tampil oleh pak Bambang yang diiringi oleh tepuk tangan meriah...plok plok plok....Beberapa atraksi masih ditampilkan dan acara kemudian diakhiri; pesertapun bertolak menuju ke Makam Rd Ibrahim.

Sejatinya Makam tersebut juga merupakan peristirahatan leluhur Rd Ibrahim yaitu Rd Aria Wira Tanu Datar, pendiri dan sesepuh kota Cianjur. Beliau masih dihormati hingga kini, terbukti ketika itu juga ada rombongan lain menggunakan bis dan mobil-mobil pribadi yang berziarah ke makam beliau.

Rd Aria Wira Tanu Datar (dalam Cikundul) ini juga diyakini seorang ulama besar dan penyiar Islam yang handal. Masyarakat setempat meyebut tempat itu sebagai Makam Keramat Cikundul.

Setelah melewati penjual dan pedagang kaki lima yang menyediakan berbagai makanan/barang khas Cianjur, peserta pun tiba di Mesjid di kaki Makam. Sandal pun diitipkan, dan peserta diajak untuk menghitung anak tangga menuju makam di atas bukit.

Dengan semangat ‘45, peserta pun mulai mendaki tangga satu demi satu dan mulai menghitung....tiba di pertengahan tangga, banyak peserta yang mulai mengatur napas, semakin tinggi, satu-dua mulai istriahat.. dan akhirnya tiba di Makam yang dibentuk seperti banguann mesjid; dengan napas memburu dan ngos-ngosan. Mungkin terlalu banyak menggunakan ‘pernafasan kretek’ he he he...

Hasil hitungan juga tidak sama: ada yang mengatakan tangga tersebut berjumlah 179, ada yang bilang 210, 198, 205 dan ada yang berkata” saya sibuk menghitung dan mengatur napas sendiri”, he he he..jadi gak sempet untuk menghitung anak tangga..

Istirahat sejenak di pelataran bangunan makam, sambil menikmati angin semilir yang mengobati lelah naik tangga; sembari melayangkan mata pada pemandangan indah di bawah bukit.

Peserta kemudian menuju ke Makam Rd Ibrahim yang terletak di samping, agak belakang, dari Makam Rd Dalem Cikundul. Doa pun dialunkan bagi pendiri maenpo Cikalong ini, diikuti oleh doa-doa pribadi yang dipanjatkan oleh masing-masing peserta Wisata Silat.


(Photo makam Rd Ibrahim: perhatikan makamnya yang demikian kecil dan panjangnya tidak lebih dari setengah meter; ada yang berpikir ‘mengapa demikian pendek makam ini?’...juga ada pesan sponsor yang mengganjal pemandangan)

Usai berzirah rombongan pun turun menyusuri tangga demi tanggan dan kali ini disambut oleh barisan peminta rejeki yang berada di luar pagar, namun memiliki ‘tangan yang panjang’ yaitu kayu/bambu yang ujungnya diikat dengan potongan botol aqua, sebagai tempat untuk memberi sedekah. Maka bersedekahlah jika mungkin. Cara ini dipakai mungkin dikarenakan tidak boleh berada di dalam area makam.

Tiba di mesjid bawah, peserta pun sholat, istirahat sejenak lalu kembali ke bis untuk ke goa Cilebut tempat khalwat (meditasi dan merenung) Rd Ibrahim sebelum membentuk maenpo Cikalong.


GOA CILEBUT
Iring-iringan bisa dan mobil-mobil pribadi dengan didahului oleh mobil LLAJR melaju, menuju ke pusat kota kecil cikalong kulon dan berhenti di depan kantor camat cikalong kulon, di sebrang alun-alun kota.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dari samping kantor camat, melewati perkampungan penduduk yang rapat dan banyak memiliki empang-empang, tempat memelihara ikan ato sumber mata air dan juga ada yang berfungsi sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga. Jalan setapak kemudian berujung di sebuah daerah menurun yang sebalah kanannya ada empang besar dan sebalah kirinya demikian; dan di depan empang kiri ada tanah terjal; disinilah goa Cilebut berada.

Namun sayang keadaanya sudah berubah, sejak team survey 2 bulan lalu mengunjungi tempat ini. Disekeliling goa sudah dipagari oleh tembok semen yang masih terlihat baru; sehingga goa sama sekali tertutup dan tidak terlihat dari luar. Belum lagi tepat ditengah-tengah pintu masuk goa, ada semacam tugu yang dipasang oleh paguron silat tertentu. Hal yang sama juga terlihat pada makam RD Ibrahim, ada pesan ‘sponsor’ paguron yang sama.

Belum jelas apa motif pemasangan ini. Namun peserta wisata sungguh menyayangkan kondisi ini. Sebagai asset bersama masyarakat cianjur selayaknya tempat-tempat bersejarah dan juga dikeramatkan oleh penduduk setempat, selayaknya mendapat perhatian dari Pemkab agar ha-hal demikian dapat dihindari dan kelestarian situs dan makam tersebut lebih terjamin. Seorang peserta berkomentar: “kalo semua paguron cikalong minta didirikan prasati di depan goa itu, sebagai tanda memiliki, maka apa jadinya tempat tersebut, pasti tertutup habis; mengingat, di cikalong kulon saja ada 28 paguron aliran cikalong”.


Peserta lain berpendapat ”tempat tersebut bukan milik suatu paguron tertentu tapi milik aliran cikalong, milik bersama dan tidak bisa diklaim oleh salah satu paguron saja. Maka Pemkab adalah pihak yang paling tepat untuk menertibkdan mengelola tempat tersebut sekaligus menghindarkan perseteruan antar paguron”. Sebuah pendapat yang kebanyakan diamini oleh seluruh peserta Wisata Silat. Opini tersbut lahir dari suatu rasa keprihatinan dan kecintaaan pada maenpo cikalong dan kelestarian tempat bersejarah yang berkaitan dengannya.

Usai menengok goa Cilebut , yang sedang ada pemotongan pohon kelapa dengan mesin di dekatnya, sehingga suasana agak bising, peserta kembali lagi ke bis dan bertolak menuju ke Waduk Cirata, berplesir.


Waduk Cirata

Waduk Cirata merupakan waduk buatan yang dibangun di daerah aliran sungai Citarum. Luas waduk ini mencapai 6.200 ha. Dan kesanalah rombongan wisata silat pergi untuk makan siang dan menikmati panorama alamnya.


Rombongan berhenti di sebuah rumah makan dan bersantap siang dengan ikan air tawar goreng/bakar lengkap dengan lalapan khas sunda serta sambal. Terasa mengenyangkan perut di hari yang siang dan lapar itu. Seusai mengisi ‘kampung tengah’, peserta pun berarak ke tepi waduk cirata. Sebagian lalu berperahu mengelilingi waduk, di bawah matahari yang bersahabat yang dengan cahaya-nya yang manja memantulkan kelip keemasan pada permukaan air waduk.

Kerambah apung untuk pengkaran ikan penduduk setempat terlihat pada ujung waduk. Disini dipelihara berbagai ikan air tawar mulai dari nila, ikan mas, mujaer dan lain lain..

Puas berperahu dan berkeliling Waduk peserta pun kembali ke bis untuk ke Cianjur kota. Jam sudah menujukkan pukul 5 lebih, dengan mengingat bahwa pukul 7-an ada acara di Dewan Kesenian cianjur (DKC). Tiba di KONI pukul 6-an dan bersiap-siap, plus makan malam dan langung berangkat ke DKC


Sambutan Meriah di DKC

Gedung Dewan Kesenian Cianjur (DKC) terletak di jantung kota Cianjur, di depan pasar inpres, tepat di pertigaan. Sewaktu peserta menginjakkan kaki di halaman DKC ini sudah menanti rombongan anak-anak yang akan menghantar peserta Wisata silat masuk ke dalam gedung dengan iringan ibing pencak, disertai musik gendang pencak yang berdentam penuh semangat, menyatakan selamat datang pada peserta Wisata Silat…. Wuuiih sambutannya heboh ya……

Terlihat di kursi sebalah kanan, sudah penuh oleh para sesepuh dan praktisi maenpo cianjur dengan pakaian yang berwibawa dan ikat kepala khas cianjur.


Peserta wisata silat pun duduk di sebelah kursi kiri, sesepuh di bagian depan dan acarapun dimulai. Sambutan pertama dari ketua panitia, Hj Aziz, dari paguron pancer bumi yang juga anggota DKC, yang melaporkan sejumlah 60 lebih mengikuti wisata silat ini dan telah berziarah ke Makam Rd Ibrahim dan Goa Cilebut .

Sambutan berikutnya dari O’ong (mewakili forum) yang mengajak semua paguron untuk membuka diri demi kelestarian maenpo dan menggunakan pariwisata sebagai salah satu cara pelestarian.

Bp Eddy Nalapraya, president PERSILAT, turut menyumbang saran megenai pentingnya perhatian dari pemkab setempat dalam bentuk pendanaan APBD untuk kegiatan budaya pencak silat.

Sambutan dari Bupati yang diwakilioleh asda2-nya menyatakan akan menyampaikan semua usulan tersebut pada Bupati dan saat ini manepo telah menjadi kegiatan wajib bagi semua sekolah SD dan SMP di Cianjur dan dalam waktu dekat akan diadakan pelatihan bagi giru calon pelatih maenpo.

Berkaitan dengan pendirian padepokan maenpo cianjur, telah pula dibeli tanah sekian hektar untuk keperluan itu, sambil menunggu dana selanjutnya untuk membuat gedung dan perlengkapannya.

Sambutan usai, langsung hadir pada acara yang dinanti, persembahan atraksi pencak silat. Ibingan- demi ibingan dari anak-anak, baik perseorangan maupun kelompok menampilkan keindahan gerak dan seni dari maenpo cikalong. Hadirin sungguh dibuat takjub oleh penampilan ini dan enggan berkisar sedikitpun dari tempat duduknya.

Anak anak segala umur mulai dari SD, SMP hingga SMA memeragakan maenpo-nya masing-masing dengan sedemikian mengagumkan. Kendati sangat muda, unsur rasa dan penghayatan gerak sudah mulai tampak pada setiaphentakan dan sapuan tangan dan kaki cilik mereka. Hanya ada : luuarr biaassaa...

Dan tidak hanya itu, kini para sesepuhpun menampilkan atraksinya. Ini sungguh istimewa. Terutama kehadiran Gan Ita Sasmita yang berusia 84 tahun, yang berjalan pun terlihat susah, sehingga mesti dituntun terlebih ketika naik tangga; ...eehhh... waktu dia ber-ibing dan memainkan jurus dan bahkan tehnik aplikasi dengan sesepuh lainnya; sama sekali tidak terlihat sudah demikian uzur dan menderita penyakit berat yang membutuhkan operasi; bahkan dengan tangkas dia mampua menghadapi serangn orang yang lebih muda; semuanya itu jelas membuat tergangga peserta wisata silat.

Applaus besar pun menggema dan diberikan pada beliau, pada dedikasi dan kecintaanya pada maenpo; sebuah teladan nyata dan hidup bagi kaum muda dan khususnya peserta Wisata Silat, yang sebagian berpikir: ‘apakah kita bisa seperti beliau jika telah tua nanti’, ato sebagian lagi bergumaam dalam hati: ‘bisakah aku menjadi tua seperti beliau ..he he...’ (maksudnya kagak mati mude , gitu)...

Suasana tambah hangat dan semarak. Kini giliran tampilan dari peserta Wisata silat, dengan iringan gendang pencak; tampilan 15an anak-anak dari paguron Paku Bumi, teletak di Cipanas, yang dibawa khusus oleh Pak Eddy Nalapraya untuk acara ini, semakin menghanyutkan suasana ...

Yang kemudian, muncullah Bang Idjul memainkan jurus aliran sabeni yang cepat dan keras diikuti Pak Bambang dari cingkrik goning, Bang Nani (gerak saka), Kong Salim (paseban lama); Masih terus atraksi dan penampilan demi penampilan bergulir satu demi satu...

Atraksi terakhir adalah ibingan khusus Cianjuran yang dibentuk oleh para sesepuh maenpo Cianjur untuk kepentingan ibingan. Secara serentak semua sesepuh (berjumlah dua puluhan orang) ber-ibing ria dengan sangat memukau. Malam tak terasa semakin larut...semua acarapun mesti diakhiri untuk datang lagi esok hari lagi.

Workshop Maenpo Cianjur
13 Mei 2007, Inilah acara puncak wisata silat. Singkat kata, pukul 8.30 semua peserta sudah duduk manis di Gedung DKC dan menantikan acara puncak ini. Uniknya peserta yang hadir di ruangan pertemuan sangat banyak mencapai seratus orang lebih. Banyak peserta dan wartawan yang datang kemudian.

Acara di buka dan dimoderatori oleh Pak Bambang dan Uda Alda. Dengan tepat dan singkat, dalam sambutannya, koorodinator forum dengan sinagkat padat dan jelas mengatakan bahwa tujuan utama forum hanyalah untuk menjadikan pencak silat ‘sebagai tuan di rumahnya sendiri dan dicintai oleh, khususnya, kaum mudanya’....

Setelah itu moderator pembicara ditangani oleh Bp Memed, sekaligus pembicara tunggal untuk sejarah maenpo cianjur. Dengan cukup panjang dan detil, Bp memed menerangkan sejarah maenpo Cianjur mulai dari Rd. Ibrahim hingga saat ini; disinggung juga berbagai filosofi yang sangat dalam baik yang terkandung dalam gerakan maupun dalam budaya setempat.


(wajah para pembicara dan sesepuh maenpo cianjur)
Acara kemudian menonton ‘layar tancep’ atraksi jurus-jurus dari Cikalong, Sabandar dan Cikaret ketika ada syuting dari Eric, tamu dari Perancis.

Tanya jawab menyusul kemudian yang dengan antusias diikuti oleh hadirin workshop. Dan akhirnya, para sesepuh pun menampilkan ilmu mereka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Benar-benar kesempatan langka dan sangat berharga.

Bahkan peserta mendapat kesempatan untuk ‘merasakan’ energi dan rasa dari masing –masing aliran. Mulai dari cikalong yang lembut maupun versi yang keras, cikaret yang berprinsip melumpuhkan lawan secepatnya sebelum serangan lawan sampai, sehingga terkesan cepat-keras-telengas,Ssabandar dengan permainan napas dan rasa yang dalam tahap tertentu bisa melumpuhkan lawan tanpa jarak. Sungguh menarik, sesepuh tanpa enggan dan segan menunjukkan isi dalam ilmu mereka, karena peserta silat sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Suatu anggapan yang mengharukan…

Bahkan ketika acara usai pun, peserta yang masih ‘haus’ tetap berkesempatan untuk mencoba langsung dengan berbagai sesepuh adan alirannya.

Baru kali itu peserta melihat apliksi ‘rasa anggang’ atau pun ‘rasa sinar’ yang dapat mejatuhkan/menghadapi musuh dengan jarak beberapa meter jauhnya. Juga aplikasi dari sabandar dengan tehnik napasnya. Tidak kalah heboh, dari Cikaret yang suangat cepat dan terkesan keras-telengas itu… Demikian sulit melukiskan suasana ini semua dalam kata-kata…

Sungguh suatu kekayaan budaya yang membuka mata semua peserta Wista Silat akan ‘emas-permata’ yang demikian berharga dari budaya sendiri, khususnya budaya Cianjur

Tak terasa sudah demikain sore dan peserta pun dengan enggan kembali ke bisnya. Dalam perjalanan, peserta mendapat kesempatan untuk membeli asinan, tauco dan oleh-oleh khas Cianjur lainnya; dan juga bersilahurahmi ke rumah Pak Haji Aziz, sesepuh Cikalong pancer bumi; yang juga berfungsi sebagai padepokan Cikalong Pancer Bumi sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Di bis pun peserta masih ramai membicarakan pengalaman suangat menarik itu. Gelak tawa dan kekaraban masih menyelimuti sepanjang perjalanan yang kadang-kadang diselimuti juga dengan kesunyian, karena sebagian terlelap oleh rasa lelah.

Namun semua peserta menyatakan bahwa mereka puas. Sungguh behagia mengenal dan mencicipi kekayaan budaya sendiri, maepo cianjur.

Muncul tekad kuat dalam dada:
MARI KITA LESTARIKAN PENCAK SILAT TRADISONAL,
KEKAYAAN BUDAYA KITA......

Jakarta, 15 Mei 2007
Team Liputan Silatindonesia
By : Ian Samsudin
http://silatindonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=9&artid=201

 

 



Blog EntrySilat Kumango dan Filosofi MinangkabauMay 22, '07 7:20 AM
for everyone

===================================================================
 
silat kumango dan filosofi minangkabau

Silat atau biasa di sebut silek dalam dialek minangkabau adalah seni beladiri masyarakat minang yang juga berperan dalam mendidik manusia minangkabau untuk menjadi manusia yang mempunyai ketinggian baik lahir maupun batin (urang nan sabana urang/manusia yang sebenarnya manusia). Karena dalam tradisi silek minang tidak hanya di ajarkan untuk membela diri dalam bentuk belajar serangan atau hindaran, tapi juga di isi dengan materi-materi yang penuh filosofi yang di simbolkan dalam aplikasi gerakan silat.

Menurut beberapa penelitian di sebutkan bahwa silek minang adalah hasil kolaborasi dari aliran silat di jaman minang kuno dahulu yang di sebut gayuang dengan beladiri dari luar minang, antara lain Harimau Campa, Kuciang Siam, Kambing Hutan, dan Silat Anjing Mualim dari Persia. Oleh Datuk Suri Dirajo semua unsur itu di rangkum menjadi satu aliran yang di sebut Silek Usali atau biasa di sebut Silek Tuo.

Silek Tuo ini memiliki gerakan yang sederhana, sehingga banyak pandeka - pandeka minang yang memodifikasi gerakan-gerakannya sesuai dengan pengetahuannya masing-masing, dan di beri nama sesuai dengan tempat asal silat tersebut atau kemiripan gerakan tersebut dengan alam sekitarnya (alam takambang manjadi guru), sehingga akhirnya banyak varian-varian silat minangkabau seperti silek lintau, silek pauh, silek sungai patai, silek kumango (berdasarkan lokasi), silek buayo, silek harimau, silek kuciang bagaluik, silek baringin (nama hewan/tumbuhan), silek starlak, silek sentak (berdasarkan gerakan) dll

Dari sekian banyak jenis silek yang terdapat di minangkabau itu, di kabupaten Tanah Datar tepatnya di kampung kumango, merupakan tempat asal silek yang di sebut silek kumango. Silek kumango merupakan salah satu aliran silek yang termuda, dan juga merupakan salah satu silek minang yang tumbuh berasal dari lingkungan surau. Silek Kumango di kembangkan oleh Syekh Abdurahman Al Khalidi yang merupakan mursyid Tarekat Samaniyah yang melakukan aktifitasnya di Surau Kumango. Perlu diketahui, Surau Syekh Kumango ini adalah salah satu tonggak penting dalam penyebaran tarekat khususnya tarekat samaniyah di minangkabau. Banyak orang yang datang untuk mengambil baiat tarekat ke Surau Kumango ini, dan sampai saat ini pun Surau Seykh Kumango menjadi pusat ziarah bagi para murid tarekat samaniyah yang ada di minangkabau, malaysia, kalimantan, dan sekitarnya.

Nama kecil Syekh Abdurahman Al Khalidi Kumango adalah Alam Basifat, sejak kecil Alam sudah di kenal sebagai parewa (preman), dan akhirnya belajar mengaji dan mengkaji termasuk ilmu tarekat. Cabang tarekat yang dikuasainya adalah Tarekat Samaniyah, Naqsyabandiyah dan Syatariyah, namun yang di ajarkannya kepada masyarakat dari Surau Kumango adalah Tarekat Samaniyah. Bakat parewa Syekh Abdurahman ini rupanya di salurkan dalam bentuk ilmu silat, yang dikemudian hari di kenal sebagai silat kumango.

Saat ini silek kumango di pimpin oleh Guru Gadang Lazuardi Malin Maradjo, di bantu oleh beberapa asistennya yang di sebut Guru Tuo, antara lain Uda Lesmandri, yang juga seorang praktisi tari kontemporer yang berbasis Silek Kumango.

Filosofi dalam silek kumango antara lain dimulai pada saat penerimaan murid baru (mangangkat anak sasian) yang di wajibkan untuk memenuhi syarat-syarat tertentu yang di sebut manatiang syaraik (mengangkat syarat/sumpah), yaitu dengan membawa barang2 tertentu:

1. membao lado jo garam (membawa cabai dan garam) -->merupakan simbol agar ilmu yang diperoleh akan melebihi pedasnya cabai dan asinnya garam
2. pisau tumpul--> sebagai simbol bahwa murid yang baru datang di ibaratkan sebagai pisau tumpul yang akan di asah di sasaran agar menjadi tajam
3. kain putiah/kain kafan-->simbol kepasrahan kepada Sang Khalik agar selalu siap utk kembali kepadaNya
4. jarum panjaik jo banang-->simbol efisiensi, hemat dan tidak boros
5. bareh sacupak-->simbol utk bekal agar mandiri
6. ayam batino-->ayam ini biasanya dipelihara di rumah guru dan telurnya di ambil utk dimakan bersama-sama

Sebagai mana sebagian besar silek minang lainnya, dalam pola langkahnya silek kumango juga menganut sistem langkah nan ampek (langkah empat). Pola langkah empat ini pada dasarnya adalah membagi ruang di sekeliling kita menjadi empat bagian, depan, belakang, kiri dan kanan. Pola ini banyak di temui di banyak aliran beladiri lainnya. Dalam silek kumango langkah ampek ni di simbolkan sebagai langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dal, yang merupakan huruf hijaiyah dalam kalimah Allah dan Muhammad.

Langkah nan ampek ini adalah bagian dari pituah pituah filosofis urang minang yang biasa di sebut sagalo nan ampek. Dalam menghadapi orang atau anak yang susah untuk di atur, para orang tua minang suka mengatakan mengatakan "indak tau nan ampek" kepada anak2nya, tidak tahu yang empat, artinya itu adalah sindiran bahwa ia tak tau tentang yang empat itu.

Ampek macam batang aka
Partamo syariaik
Kaduo tarikaik
Katigo hakikaik
Kaampek makripaik

Urang nan ampek golongan
Partamo niniak mamak
Kaduo cadiak pandai
Katigo alim ulamo
Kaampek bundo kanduang

Adaik nan ampek
Partamo adaik nan sabana adaik
Kaduo adaik nan diadaikkan
Katigo adaik nan taradaik
Kaampek adaik istiadaik


Langkah nan ampek ini juga di simbolkan dengan sifat dari Nabi Muhammad SAW, yaitu Siddik, Tabligh, Amanah dan Fatonah. Dan banyak lagi filosofi minang yang terangkum dalam sagalo nan ampek.

Dari sisi ilmu batin, langkah nan ampek ini juga merupakan simbol dari nafsu manusia yang terdiri dari nafsu ammarah, lawwamah, sufiyah dan muthmainah. Dan ini juga merupakan awal dari ilmu untuk mencari saudara batin guna mencari DIRI yang sejati. Ini mirip dengan pemahaman sedulur papat lima pancer yang ada di tanah jawa. Sehingga pada akhirnya nanti akan menemukan jati diri manusia yang benar-benar MANUSIA. Ada empat tingkatan jenis manusia menurut pemahaman minangkabau yang juga terangkum dalam empat bagian, yaitu : urang, urang nan takka urang, urang nan ka jadi urang, urang nan sabana urang.

Selain langkah ampek, dikenal dalam silek minang juga dikenal filosofi langkah tigo, yang memiliki muatan filosofis serupa dengan langkah nan ampek, namun bila langkah ampek memiliki muatan agamis, sebaliknya langkah tigo memiliki muatan adat, yang menjadi landasan dalam pola pikir masyarakat minangkabau, termasuk dalam seni sileknya.

Adat babarih babalabeh
Baukua jo bajangko
Tungku nan tigo sajarangan
Patamo banamo alua jo patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso


Alua jo patuik (alur dan kepatutan/kepantasan) secara singkat adalah logika, anggo tanggo (anggaran tangga) kedisiplinan, raso jo pareso (rasa dan periksa) adalah perasaan/olah rasa dan ketelitian/periksa.

Aplikasinya dalam ilmu silek adalah bahwa silek itu haruslah bersesuaian dengan ilmu pengetahuan/logika/masuk di akal, dalam mempelajarinya diperlukan kedisiplinan, dan terakhir yang tak kalah penting adalah pengolahan rasa untuk mempertajam gerakannya.

Dalam silek kumango, pengaruh sufistik dari Syekh Abdurahman juga tampak dalam filosofi, bahwa setiap serangan haruslah dielakan terlebih dahulu. Tidak tanggung-tanggung bukan sekali di elakan, melainkan di elakan sebanyak empat kali.
Elakan pertama di simbolkan sebagai elakan mande, dalam menghadapi serangan pertama dari seorang musuh, harus di elakan, dianggap nasihat dari seorang ibu kepada anaknya, jadi kita wajib memahaminya dan bukan melawannya.
Elakan kedua di simbolkan sebagai elakan ayah, jadi harus dipahami dan bukan dilawan.
Elakan ke tiga di simbolkan sebagai elakan guru, kita harus mengumpamakan bahwa itu adalah seorang guru yang sedang marah kepada kita sehingga wajib di pahami dan tidak dilawan dengan cara mengelakan serangannya,
Elakan keempat di simbolkan sebagai elakan kawan, yaitu di artikan bahwa itu adalah seorang kawan yang hendak bermain-main kepada kita sehingga harus kita pahami dan dalam gerakan silat harus kita elakan.
Baru pada serangan kelimalah seorang pesilat kumango dapat melakukan gerakan perlawanan, karena pada serangan kelima ini di ibaratkan si penyerang sudah bersama setan, sehingga wajib bagi kita untuk menyadarkannya, dalam aplikasi gerakan silat ini bisa dilakukan dengan gerakan serangan berupa pukulan atau sapuan kaki yang diakhiri dengan kuncian, dengan catatan bahwa serangan dari kita hendaknya tidak boleh sampai mencederai lawan, dan bahkan apabila lawan sampai kesakitan, minta maaf adalah hal yang patut dilakukan.

Dalam diskusi silat kumango beberapa waktu lalu di padepokan TMII yang diprakarsai oleh rekan2 sahabat silat (www.sahabatsilat.com) , ada seorang peserta yang menanyakan bagaimana aplikasi silek kumango dalam menghadapi lawan yang berada di bawah (jatuh atau menjatuhkan diri), misalnya saja dalam menghadapi seorang ahli gulat/grappling, ternyata dalam filosofi silek kumango di sarankan untuk tidak menyerang lawan yang posisinya sudah berada di bawah.

Dalam pepatah minang ini di simbolkan dengan “alah kanyang ka tambah” sudah kenyang masih mau nambah, maka yang terjadi adalah hilanglah rasa kenyang dan tibul rasa sakit perut. Karena lawan yang berada di bawah di posisikan sebagai lawan yang sudah jatuh, nah menyerang lawan yang sudah kita jatuhkan bisa mengakibatkan posisi kita malah menjadi lemah, maka sebaiknya di biarkan lawan sampai bisa berdiri kembali.

Jurus Silat Kumango :
1. Elakan (kiri luar, dalam)
2. Elakan (kanan luar, dalam)
3. Sambut Pisau
4. Rambah
5. Cancang
6. Ampang
7. Lantak Siku
8. Patah Tabu
9. Sandang
10. Ucak Tanggung
11. Ucak Lapeh

Dalam permainan silek kumango tidak dikenal permainan senjata, kecuali dalam kembangan yang berbentuk tarian. Sebagai silek yang berasal dari budaya surau, maka senjata yang dikenal dalam silek kumango adalah sarung. Jadi selain sebagai alat untuk beribadah, sarung juga merupakan senjata yang dapat di andalkan. Dalam diskusi silat kemarin itu Guru Gadang Amak Ar juga memperagakan gerakan beladiri dengan mempergunakan senjata sarung.

Demikianlah sekilas tentang silek kumango, yang selain berguna dalam fungsi pembelaadi diri, juga berperan dalam pembentukan moral manusia minang. Didalam silek ini banyak sekali pituah pituah urang minang dengan arti yang sangat dalam. Sangat di sayangkan kalau budaya ini sampai hilang di telan zaman.


Usang usang di pabarui
Nan lapuak di kajangi
Nan senteng di bilai
Nan taserak di kumpuekan
Nan hanyuik di pintehi
Nan takalok di jagokan
Nan hilang di cari

 

Salam silat indonesia

 


 

 

 

laporan lain dari silat kumango http://nagapasa.multiply.com/journal/item/15


Eventdiskusi pencak silat - silek kumanggo minangkabauApr 24, '07 11:25 PM
for everyone
Start:     Apr 28, '07 09:00a
Dh,

Rekan2 sahabat silat forum untuk diskusi bulanan bulan April ini merencanakan diskusi bulanan sebagai berikut:

Aliran : Silek Kumango
Tempat : Hall Terbuka Padepokan Pencak Silat Indonesia
Tanggal : 28 April 2007
Jam : 10.00 s/d 12.00 WIB
Agenda :
1. Sejarah/silsilah
2. Kaedah/falsafah
3. Peragaan jurus2 dan aplikasi
4. Diskusi/tanya jawab
Pembicara : Para sesepuh dan guru besar dari Silek Kumango yang khusus datang dari Batu Sangkar
Moderator : Uda Alda F. Amtha

Diskusi ini terbuka untuk umum.....saat ini dalam tahap persiapan akhir dengan perwakilan batusangkar, rekan2 sahabat silat diminta untuk berkenan mengosongkan waktu dan hadir pada saat acara tersebut.....

Blog Entrysilek kumanggo minangkabauApr 24, '07 11:22 PM
for everyone


Pada hari sabtu minggu ini (28 April 2007), teman-teman dari Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional akan mengadakan diskusi mengenai silat dari ranah minang, yaitu silek kumanggo

Silat atau biasa dilafalkan dengan ucapan silek (sile') adalah salah satu warisan budaya yang utama dari tanah minangkabau, karena daerah minangkabau diakui sebagai salah satu daerah yang banyak mempengaruhi aliran silat dari daerah lain. ditanah minang sendiri ada banyak jenis aliran silat, antara lain dikenal berdasarkankan asalnya, yaitu : silat lintau, silat pauh, silat pagaruyung, berdasarkan masa berdirinya : silat tuo, silat rang mudo ; berdasarkan gerakannya : silat starlak, silat buayo lalok, silat harimau, silat kumanggo, dll

Yang akan menjadi topik diskusi minggu ini adalah silek kumanggo, yang berasal dari kabupaten tanah datar, batu sangkar. Silat ini di nisbahkan kepada pendirinya yaitu Syekh Abdurahman Al Khalidi Kumanggo, seorang ulama sufi yang terkenal dari batu sangkar yang menyebarkan tarekat samaniyyah dan naqsyabandiyah ke seluruh penjuru ranah minang. Sampai saat ini Surau Syekh Abdurahman Kuamanggo di tanah datar masih menjadi pusat penyebaran Tarekat Samaniyyah dan menjadi tujuan ziarah menuju makam Syekh Kumanggo.

Pengaruh sufistik dari pendiri silat ini mejadikan silat kumanggo ini penuh dengan ajaran-ajaran yg penuh cinta kasih. Ini ada kemiripan dengan silat yang berkembang di daerah Jawa Barat yaitu silat cikalong, yang didirikan oleh Mamak H Ibrahim yang menimba ilmu tarekat Naqyabandiyah dari ajengan cirata, yang menjadikan silat cikalong penuh dengan jaran cinta kasih dan tidak berusaha untuk menyakiti lawan, dan cenderung untuk menyadarkan lawan.

Pengaruh tasawuf tampak dalam Langkah Dasar Silek Kumango yaitu Alif Lam Lam Ha, Min Ha Min Dal (menjalani hidup dan kehidupan mencari keredhaan ALLAH SWT dengan mencontoh perilaku Rasulullah SAW)

Menurut Bapak Aslim Nurhasan Sutan Sati salah seoran rekan milis yang juga pengurus Limpapeh dari batu sangkar, mengatakan bahwa prinsip-prinsip humanisme dalam ajaran tasawuf juga tercermin dalam gerakan dan filosofi silat kumanggo, yaitu antara lain tidak berkehendak untuk menyakiti lawan, filosofinya adalah bahwa musuh tidak di cari , dan apabila terpaksa tak mungkin dielakan, atau dalam istilah lain yaitu gantiang ka putuih, artinya genting ke putus, jadi filosofinya, bahwa silek ini kalo masih dalam keadaan genting pun selama masih bisa di elakan yah sebaiknya di hindarkan, tapi dari keadaan genting ke mau putus leher, barulah silek bisa di gunakan.

Ketinggian budi silek kumanggo ini juga tercermin dalam gerakan pembelaannya :

Serangan pertama, disambut /dielakan dan dianggap sebagai teguran teman
sejawat. Serangan kedua, disambut /dielakan dan dianggap sebagai teguran
guru, Serangan ketiga, disambut /dielakkan dan dianggap sebagai teguran Bundo
/Ibu,Serangan keempat, disambut /dielakkan dan dianggap sebagai teguran Ayah. Serangan
kelima, disambut dan dikunci (dianggap si penyerang sudah bersama setan). Ketika
penyerang sudah tidak bisa bereaksi (kesakitan), Pesilat Kumango mohon maaf,
kalau si penyerang tersakiti

 Sepeninggal Syekh Kumanggo, silaek kumanggo ini dikemabngkan oleh keturunannya, dan di antaranya yang terkenal adalah Malin Maradjo, yang ketinggian ilmunya di anggap hampir menyamai Syekh Kumanggo, Malin Maradjo ini kabarnya pernah menjuarai silat tingkat nasional (PON) di masa awal kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 40-50an. Sedangkan mengenai nasib Malin Maradjo ini sendiri simpang siur, karena kabarnya juga beliau ikut terlibat dalam gerakan PRRI di tahun silam.

Nah kembali ke acara diskusi minggu ini, atas budi baik Pak Aslim Nurhasan yang merupakan pengurus Limpapeh Luhak Nan Tuo (lyayasan seni budaya minang), dan juga dukungan dari bupati Tanah Datar yang ternyata juga seorang pesilat, sehingga bersedia untuk berkunjung ke jakarta, untuk membagi pengetahuannya, demi keutuhan budaya bangsa. Tidak tanggung-tanggung, mereka yang akan datang ke jakarta adalah Guru Gadang (Guru Besar) dari silek kumanggo itu sendiri yaitu Bp, Lazuardi Malin Marajo ( Abak Ar Malin) yang sudi datang berkunjung ke jakarta tanpa pamrih apa-apa, dan beliau juga di temani oleh Bp. Lesmandri dari Limpapeh yang mengembangkan Tari Minangkabau berdasarkan silek kumanggo.

Bagi yang ingin ikut serta silahkan datang ke padepokan silat TMII hari sabtu tanggal 28 April 2007 pukul 10 pagi. Silahkan datang ga perlu daftar ga perlu bayar, kalo mau bawa makanan atau cemilan sendiri hehehehh..kalo mau tanya-tanya bisa tanya ke saya di multiply ini atau Mas Eko Hadi di No : 0816703240

salam pencak silat

 


Blog EntryForum Pencak Silat TradisionalApr 5, '07 2:48 AM
for everyone

Pernah denger silat Sabeni dari Tanah Abang, silat cingkrik dari rawabelong, silat paseban, silat gerak rasa, silat pahaman empat kelima pancer, sibandrong, sipecut, sitembak, sliweh, naga ngerem, kelabang nyebrang, silat bunder???

Pasti banyak yang sudah tidak mengenalnya lagi, padahal itu semua adalah aliran silat yang terdapat dijakarta, menurut penelitian ada lebih dari 300 jenis silat yang ada di daerah jakarta...angka yang fantastis

banyaknya jenis aliran silat ini, dikarenakan sifat silat ini yang fleksibel, banyak pendekar yg telah menguasai satu aliran silat, lalu mempelajari aliran lainnya, dan akhirnya dikenal dengan silat alirannya sendiri

tapi sayangnya keberadaan silat-silat itu sendiri kini seperti hidup segan mati pun tak mau, pernah terdengar sayup sayup namanya, tapi tak kelihatan rupanya, cerita yg ada selalu diawali dgn kata konon kabarnya

berangkat dari keprihatinan inilah, maka sekelompok teman-teman yg tergabung dalam milis silat indonesia (d/h milis silat bogor), merasa terdorong untuk melakukan sedikit usaha untuk ikut membantu pelestarian silat-silat yg namanya tinggal sayup sayup itu

sedikit demi sedikit, data-data jenis silat yg pernah tumbuh di jakarta ini mulai terkuak keberadaannya, dan beberapa bahkan difasilitasi untuk dapat melakukan pelatihan di padepokan TMII

beberapa acara telah dilakukan, seperti diskusi aliran silat, yang sudah pernah membahas silat cikalong, silat cingkrik dan silat margaluyu, juga pernah mengadakan diskusi antara silat cikalong dengan aikido, dll

sampai saat ini sudah banyak aliran silat yg telah terdata dan telah di posting di www.silat indonesia.com dan juga sebagian di informasikan di media cetak (koran Tempo) dan televisi (Trans TV)

banyak orang salah mengira, bahwa dalam silat banyak unsur-2 ghaib atau magicnya, tapi selama ini saya justru malah belum menemukannya, silat seperti juga jenis beladiri lainnya seperti dari cina atau jepang, adalah mengandalkan kecepatan gerak dan kepekaan rasa

gue sendiri basically lebih lama latihan silat impor, yaitu aikido dan judo, sejak awal masuk kuliah gue udah latian aikido, dan selama ini gue pikir hanya aikidolah beladiri yg mengutamakan "rasa", tapi ternyata banyak beladiri lain yg juga mengutamakan rasa, seperti misalnya silat cikalong dan silat gerak rasa (latihan napel di silat cikalong itu dasyat banget utk latihan kepekaan dan merasakan energi lawan)

oya foto di post ini adalah foto Pak Tubagus Bambang Sudrajat, pewaris silat cingkrik goning, yg belajar dari mertuanya Alm Usup Utai, yg belajar langsung dengan Engkong Goning, foto ini diambil waktu latihan dipadepokan TMII

apabila ingin mengetahui informasi mengenai keberadaan silat yg ada di jakarta, bisa contact teman-teman di forum ini, mudah-mudahan forum punya data-data terakhirnya, mengenai alamat lokasi, dan pewaris silat tersebut

dan apabila ada informasi mengenai keberadaan jenis aliran silat yg hampir punah, silahkan kasih tau kita agar data-data yg ada semakin lengkap

dan kalo mau ngobrol-ngobrol juga asik asik aja kok

kalo bukan kita sendiri yang melestarikan budaya kita sendiri lalu siapa lagi ???  ;)

 

 


EventDiskusi Pencak Silat BulananMar 15, '07 6:37 AM
for everyone
Start:     Mar 16, '07 07:00a
End:     Mar 17, '07
Silat adalah olahraga beladiri tradisional Indonesia yang sampai hari ini masih
eksis perkembangannya hingga kemancanagera. Walupun perkembangannya di negeri
ini kurang begitu menggembirakan akan tetapi semangat para pecintanya tetap
berupaya agar olahraga ini tetap lestari.



Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia (FP2TS) adalah sebuah
wadah yang terbuka khususnya bagi para pecinta maupun penghobi dalam menyalurkan
Apresiasi dan wacana dalam mengembangkan olahraga bangsa ini.

Forum ini berdiri sejak 10 Juni 2006, Bertempat di Padepokan Pencak Silat
Indonesia, Jakarta Timur, dengan nama "Forum Pencinta dan Pelestari Silat
Tradisional Indonesia" Sejak itu, berbagai program digulirkan, antara lain,
pemetaan dan dokumentasi beberapa perguruan silat tradisi yang ada di Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi melalui situs silatindonesia.com dan Koran
Tempo serta promosi dan pengenalan silat tradisional kepada generasi muda
melalui seminar ataupun diskusi.

Forum juga memfasilitasi latihan di padepokan silat, yakni Cingkrik Goning
(Sabtu pagi), Cikalong (Sabtu siang), dan Aliran Sabeni (Sabtu sore), serta
Paseban Lama (Sabtu malam di Kalimulya, Depok).

Acara rutin yang tak kalah menariknya adalah diskusi bulanan yang telah berjalan
sejak awal Tahun 2007 ini, acara tersebut pada bulan Januari lalu adalah :

1. Aikido dan silat Cikalong ( Januari 2007)

2. Silat Cingrik "Goning" (Februari 2007)

Pada Bulan Maret ini rencananya adalah Gerak Badan "Margaluyu" yang akan
diselenggarakan pada :

Hari : Sabtu/17 Maret 2007

Jam : 13.00 WIB

Pembicara : Bapak Bambang (Aliran Margaluyu)

Tempat /Lokasi : Gedung Hidro Jalan Dewi Sartika 199B (samping rumah sakit budi
Asih)



Agenda :

1. Sejarah Aliran Margaluyu;

2. Falsafah/jurus2nya;

3. Peragaan Jurus/aplikasi;

4. Diskusi bebas.



Bagi rekan-rekan yang ingin ikut dalam kegiatan diskusi bulanan ini tidak di
punggut biaya, (kecuali Konsumsi). Untuk informasi pendafaran silahkan kontak
kami melalui e-mail di silatindonesia@... .

Tujuan utama di adakan diskusi ini adalah untuk memperkenalkan kembali pencak
silat kepada masyarakat Indonesia, agar rasa cinta kepada olahraga bangsa ini
tetap terjaga, siapa lagi kalau bukan kita. ( www.silatindonesia.com)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help