"Senja itu ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku.
Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta."
mendaki pangrango kali ini agak berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya, berbeda karena kali ini kami akan melalui jalur pasir arca langsung menuju lembah mandalawangi gunung pangrango
dan di awal-awal perencanaan perjalanan kali ini di warnai intrik-intrik oleh badai jacobs dari australia yang membuat cuaca di indonesia, khususnya di wilayah jakarta bogor menjadi tidak menentu dan cenderung hujan lebat di sertai badai angin dan petir
dan di saat-saat terakhir dikala badai jacobs mereda, justru kembali merebak badai silent trip di kalangan begundals yang sampai hari ini masih sulit untuk di cairkan kembali
sebenarnya ga ada niat utk silent trip, karena perjalanan ini pun sebelumnya sudah di posting di 7th, tapi kemudian mengerucut sehingga di putuskan untuk memperkecil jumlah peserta, dengan berbagai macam alasan, antara lain mempertimbangkan jalur yg akan dilalui lumayan sulit (jalur banyak tertutup, air sedikit, waktu tempuh lebih dr satu hari utk kepuncak, cuaca hujan deras dll) sehingga di putuskan utk memperkecil jumlah peserta utk mempermudah kordinasinya nanti
tapi ternyata hal ini makin memperkeruh keadaan hehehehh...but show must go on...diputuskan utk tetap BERANGKAT!!! kumpul di terminal kp rambutan hari jumat 16 maret 2007 jam 22.00 wib
bukan begundal namanya kalo tepat waktu, sampai jam 11 malam belom pada ngumpul semua dan akhirnya jam 11.30 baru lengkap dan jalan dgn mencarter angkot sampai ke desa cisitu kampung pasir muncang, ciawi, gadog, bogor
Pasir Arca / Pasir Muncang
sekitar jam 1.30 malam sampai di batas aspal di desa pasir muncang, gadog bogor, dari sini kita mengikuti jalan setapak lahan pertanian penduduk dan juga melewati tempat perkuburan jerman, tadinya di putuskan kita mau bermalam tak jauh dari perkuburan ini, tapi karena konon tempatnya agak2 syerem maka kita jalan agak keatas lagi, dan akhirnya menemukan halaman rumah petani yang pas banget utk tempat tidur, akhirnya gelar matras dan sleeping bag, rebahlah mata yg udah redup sejak di angkot carteran tadi
Pasir Arca - Bukit 1800 mdpl
pagi hari kala matahari baru mulai terbit, beberapa begundal udah mulai menongolkan kepalanya dari balik sleeping bag, ini diluar kebiasaan secara biasanya baru mulai aktivitas kalo matahari udah tinggi, tapi karena ternyata tempat yang kita tidurin semalam itu adalah ruangan tempat para petani menaruh perkakasnya akhirnya pagi-pagi begundal dah pada bangun, soalnya udah ramai lalu lalang petani dan peladang hilir mudik nyari-nyari barangnya di sela-sela begundal yg lagi tidur hehehehh
beres berbenah, packing ulang, sarapan dan mulai sok-sok tau mau ngeplot jalur di peta kontur, sekilas bisa diliat kalo jalur yang akan di tempuh hanya melalui satu punggungan sampai nanti ketemu dengan punggungan dari arah pasir datar/pasir pangrango di ketinggian 2500an mdpl
dari rencanya jalan jam 8 pagi, akhirnya baru mulai bergerak jam 9 pagi, masih menyusuri lahan pertanian penduduk yg lebar, melewati tempat penimbangan teh, lalu tak lama kemudian jalanan mengecil tinggal jalan setapak dan berbelok ke kiri memasuki kawasan hutan
kondisi jalan masih tak terlalu curam, dan mengikuti pipa air paralon, tapi kondisi hutan sudah mulai rapat, sesekali di gunakan tramontina utk membuka jalur yg tertutup alang-alang
dengan diselingi ngopi-ngopi dan makan siang, akhirnya bukit 1800mdpl dapat di capai sekitar jam 4.30 sore
o ya..karena jalur ini bukan jalur resmi, maka tidak ada pos-pos atau shelter di sepanjang perjalanannya, untuk menandai lokasi biasanya di gunakan panduan dari tanda-tanda di peta kontur, misalnya puncakan 1800 atau puncakan 2500 dan sebagainya
di bukit 1800 mdpl ini kita sempet di buat pusing karena tidak ditemukan lokasi air, padahal air merupakan hal yg vital di jalur pasir arca ini, karena setelah bukit 1800 mdpl ini, air baru bisa di dapat di lembah mandalawangi pangrango
tapi Pemburu Tua dan Om Bob dengan segudang pengalamannya meyakinkan bahwa air dapat diperoleh esok harinya
1800mdpl - pertigaan pasir pangrango(pasir datar)
setelah bersusah payah menerabas lembah cisukabirus disebelah kiri jalur, akhirnya dengan cengiran khas om bob dan nyaring sampai juga di camp dengan membawa air utk persedian hari ini
perjalanan hari ini boleh di bilang adalah perjalanan yang terberat, kontur yang menanjak, hutan yang rapat, dan banyaknya jebakan pohon yang mengharuskan kita merayap di bawahnya tak terhitung banyaknya, sehingga pacet (lintah kecil yg suka icip2 darah) yang di awal kehadirannya agak2 menjijikan dan bikin geli, tapi kemudian kita udah pasrah, mau di gigit ampe segemuk apapun gak peduli lagi deh
makan siangpun terpaksa dilakukan dilahan yang miring, di tambah hujan lebat dan angin kencang makin menambah susah perjalanan ini, ini nih akibatnya kalo perginya sambil di sumpahin orang hahahahaa :))
dengan medan menanjak, hutan rapat, banyak jalur yg hilang, hujan dan angin, jebakan pohon, pacet dan segudang halangan lainnya akhirnya kita baru sampai di pertigaan pasir arca dengan pasir pangrango jam 5 sore
di pertigaan ini medan sudah berubah, karena posisinya berada di igir-igir puncakan, pemandangan dari sini keren bgt, sayang kondisi badan udah lemah, dan angin dingin dari lembah ciheulang di sebelah kanan kita langsung menghajar badan
dikejauhan tampak puncakan gunung pangrango, di sebelah kanan terhampar lembah ciheulang yg bisa membawa kita ke arah sukabumi, di sebelah kiri lembah-lembah pangrango
Pertigaan Pasir Pangrango - Bukit 2671mdpl - Lembah Mandalawangi
di pertigaan pasir arca dengan pasir mandalawangi ini kita sempat berembug apakah perjalanan di teruskan menuju mandalawangi, atau nge camp dulu di sini, karena mempertimbangkan kondisi badan yg udah lemah di hajar hujan dan tanjakan sebelumnya, dan karena udah terlanjur basah (kyk lagu dangdut) akhirnya kita putuskan utk hajar terus ke puncak
setelah mendaki dan menuruni tiga bukit, di antaranya bukit 2671mdpl yg viewnya keren top abis apalagi di barengi dengan sinar matahari terbenam dengan hamparan lembah ciheulang dengan jurang-jurangnya, rasanya perasaan capek tuntas deh, tapi sayang gak bisa lama-lama disitu karena anginnya kencang bgt
beres tiga bukit, sampailah kita pada saat-saat yg di nantikan, punggungan pangrango, setelah agak santai naik turun di tiga bukit sebelumnya, kembali didepan tanjakan dan hutan rapat, tapi untungnya hujan udah agak mereda, di tengah-tengah jalan inilah gue tepar, masuk angin boow :D, mual-mual, untung aja di tengah jalan ada sedikit kopi panas dan biskuit, cara cepat menghilangkan lapar .. eh masuk angin hehehehh :D
setelah di dorong oleh kopi panas dan biskuit, setelah beberapa jam mendaki punggungan pangrango ini, jalanan yg curam dan menanjak pun berganti dengan mendatar dan menurun, dan tak lama kemudian terhamparlah lembah mandalawangi dengan hamparan eidelweisnya, kita sampe sekitar jam 9 malam,
jadi sekitar 3 jam dari pertigaan pasir datar tadi (normalnya katanya 2 jam...maklum dengkul tuwo :D)
sampe langsung buka tenda, sementara yg lain pada makan, gw langsung masuk tenda rebahan sambil maksain makan sedikit roti sambil huek-huek karena masuk angin :D :D :D
Lembah Mandalawangi - Gegerbentang
pagi hari yang cerah di mandalawangi, sinar matahari hangat-hangat langsung di gunakan utk menjemur segala yg basah kena hujan kemarin
makan-makan, membereskan panggilan alam di sela-sela pepohonan, dan ke enakan leyeh-leyeh seperti biasa, rencana start turun dari mandalawangi menuju gegerbentang molor dari jam 8 pagi, jam 9 pagi pagi dan akhirnya baru tereralisir turun jam 11 siang ;)
perjalanan turun kali ini, seperti perjalanan naiknya juga melewati trek yg tidak biasa, yaitu melewati jalur gegerbentang
melalui sisi utara lembah mandalangi, kita menuruni punggungan pangrango melewati batu cadas, di sini kita bisa mengambil air di sungai kecil
lalu kembali menuruni satu punggungan menuju geger bentang, perjalanan turun kali ini agak-agak mulus tanpa di hajar hujan, dengan kondisi jalan yg juga enak, cuma sesekali jalur buntu karena pohon tumbang atau semak2 yg rapat, dan pada saat mendaki puncak geger bentang, ada halangan yg bikin bete, yaitu hutan rotan yg rapat, durinya itu loh, sangat menghambat, beberapa coverbag termasuk coverbag gue jadi korban robek kesangkut durinya, dan di lembah-lembah yg lembab pacet juga menggila, tapi tidak seperti awal-awalnya, kali ini mah mau pacet ada berapa yg nempel juga dah bodo amat deh
view-view menarik dijumpai dispot-spot sebelum puncak gegerbentang, pemandangan di sebelah kiri jalan (barat) gunung salak dikejauhan, puncak pangrango dibelakang, gunung mas, lembah-lembah dicisarua dan puncak, dan seperti hari kemarin, kita sampai di puncak gegerbentang tepat di waktu matahari tenggelam
dengan mempertimbangkan waktu, rencana sebelumnya mau turun lewat hotel puncak pass (bts), akhirnya belok kanan turun langsung menuju cibodas
turun dari puncak gegerbentang ke cibodas ternyata sangat dasyat...gak kebayang deh kalo harus naik
dan Alhamdulillah akhirnya jam 9 malam sampai juga kita di tempat yg dinanti-nantikan, tempat makan di cibodas, langsung telp istri kasih kabar ;), pesen teh botol dua botol sekali teguk, pesen nasi panas hajar langsung hehehehh
"Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
kau datang kembali
dan berbicara padaku tentang kehampaan semua.
Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya
tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah.
Dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima itu semua melampaui batas-batas hutanmu melampaui
batas-batas jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup."
'Soe Hok Gie'
***************************
thx God atas kesempatan yg telah diberikan
thx untuk istri tercinta yg agak-agak ngambek di tinggal saat hamil menginjak 7 bulan maafkan kelakuan suamimu ini yg ga tau diri dan moga-moga kamu sabar menghadapinya yah ihik ihik
thx utk begundal yg go ahead walau badai menerpa (pemburu tua, bob W, bunda, hwarakaduh, truwelu,cupix,kisunu,nyaring)
thx utk begundal yg lain, sori dimori kalo trip kali ini diwarnai badai :)
note : posting ini adalah sekedar catatan perjalanan, tidak disarankan menggunakannya sebagai bekal utk mendaki melalui jalur ini, silahkan menghubungi instasi yg berwewenang